Akoe...
Jangan Lihat Dari Fisik Tapi Lihat dari Pikiran
Selasa, 13 Januari 2009
Senin, 05 Januari 2009
Hanya Waktu Yang Mengerti Cinta
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
”Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.
”Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan.
“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”.
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.
“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.
Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.
“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta
“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.
”Oh, Kesedihan. Bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.
”Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara.
”Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.
”Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu.
”Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan temanteman
yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran.
”Sebab” kata orang itu
”Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu...”
~Arya84~
Memilih Laki-Laki Sejati
Seorang Gadis bertanya pada Bundanya, bagaimana memilih Lelaki Sejati ?Bunda menjawab, Nak..........
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar,
Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati ditempat
bekerja,
Tetapi dari bagaimana dia dihormati di dalam rumah
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yg memuja,
Tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan,
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan
Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca
by
~Arya 84~
Muda Kenal Budaya (MELAYU)

PASAL 1
Barang siapa mengenal yang empat, Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahNya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia mudarat
PASAL 2
Barang siapa mengenal yang tersebut, Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang, Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa, Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat, Tidaklah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji, Tidaklah ia menyempurnakan janji
PASAL 3
Apabila terpelihara mata, Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping, Kabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah, Niscaya dapat daripadanya paedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh,Keluarlah fi’il yang tiada senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat, Disitulah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki, Daripada berjalan yang membawa rugi
PASAL 4
Hati itu kerajaan didalam tubuh, Jikalau zalim segala anggotapun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah, Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dan memuji hendaklah piker, Distulah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela, Nantilah akan dikepala
Jika sedikitpun berbuat bohong, Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong
Tanda orang yang amat celaka, Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah,Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar, Janganlah kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor, Mulutnya itu umpama ketor
Dimana tahu salah diri, Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takabur jangan direpih, Sebelum mati didapat juga sepih
PASAL 5
Jika hendak mengenal orang berbangsa, Lihatlah kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang yang mulia, Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu, Bertanya dan belajar tidaklah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal, Didalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, Lihatlah pada ketika bercampur dengan orang ramai
PASAL 6
Carilah olehmu akan sahabat, Yang boleh dijadikan obat
Carilah olehmu akan guru, Yang boleh tahukan setiap seteru
Carilah olehmu akan istri, Yang boleh menyerahkan diri
Carilah olehmu akan kawan, Pilih segala yang setiawan
Carilah olehmu akan ‘abdi, Yang ada baik sedikit budi
PASAL 7
Apabila banyak berkata-kata, Disitulah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapaknya letih
Apabila banyak mencela (mencacat) orang, Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur, Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan kabar, Menerima itu hendaklah sabar
Apabila mendengar kata aduan, Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut, Lekaslah segala orang yang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat onar
PASAL 8
Barang siapa khianat akan dirinya, Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya, Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya, Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar, Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa, Setengah daripada sirik mengaku kuasa
Kejahatan diri sembunyikan, Kebaikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka, Ke’aiban diri hendaklah sangka
PASAL 9
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan, Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua, Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja, Disitulah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda, Disitulah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan lelaki dengan perempuan, Disitulah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua(h) yang hemat, Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru, Dengan syaitan kuat berseteru
PASAL 10
Dengan bapa jangan durhaka, Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat, Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai, Supaya boleh naik ditengah balai
Dengan kawan hendaklah adil, Supaya tangannya jadi kapil
PASAL 11
Hendaklah berjasa, Kepada yang sebangsa
Hendaklah jadi kepala, Buang perangai orang yang cela
Hendaklah memegang amanat, Buanglah khianat
Hendaklah marah, Dahulukan hujjah
Hendaklah dimalui, Jangan memalui
Hendak ramai, Murahkan perangai
Betul hati kepada raja, Tiada jadi sebarang kerja
Hukum ‘adil atas rakyat, Tiada raja boleh ‘inayat
Kasihkan orang yang berilmu, Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai, Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati, Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata, Kepada hati yang tidak buta
-Arya84_kdr-
Cinta Ada Dimana??? Carilah Dia…
Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaanpun menjadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kerja anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh anda juga tak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadi tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari kerja anda : tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.By
~Arya(14704)~
Minggu, 04 Januari 2009
Delapan Kado Terindah Bagi Orang Yang Disayangi

Cinta = Bus, Pilih Yang Mana ?
Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis
Sebuah bis datang, dan kamu bila
ng,
"Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh!
Aku tunggu bis berikutnya aja deh."
Kemudian, bis berikutnya datang.
Kamu melihatnya dan berkata,
"Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah.."
Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat,
tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu.
Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
"Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku".
Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.
Waktu terus berlalu,
kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.
Ketika bis kelima datang,
kamu sudah tak sabar,
kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.
Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.
Renungkan :
Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal'
untuk menjadi pasangan hidupnya.
Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.
Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai
keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon',
tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di
depan kita.
Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.
Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.
tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu,
semuanya bergantung pada keputusanmu.
Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu,
dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti,
kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong,
kamu sukai dan bisa kamu percayai,
dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu,
kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di
depanmu,
agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.
Karena menemukan yang seperti itu
adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti.
Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu?
By
~Arya(14704)~
Cinta Tak Menuntut Alasan, Tapi Alasan Menuntut Cinta
Co : Saya tidak dapat menjelaskan alasannya.
Tetapi saya sungguh menyukai engkau
Ce : Kamu bahkan tidak dapat memberikan alasan kepada saya
Bagaimana kamu dapat berkata menyukai saya?
Bagaimana kamu dapat berkata kamu mencintai saya?
Co : Saya sungguh tidak tahu alasannya,
tetapi saya dapat membuktikan bahwa saya mencintai kamu.
Ce : Bukti? Tidak!
Saya mau kamu menjelaskan alasannya.
Pacar kawan saya dapat berkata kepada kawan saya
bahwa dia mencintai kawan saya, tetapi kamu tidak dapat!
Co : Ok ok!!!
Hmm karena kamu cantik,
karena suaramu enak didengar,
karena kamu penuh perhatian,
karena kamu mengasihi,
karena kamu bijaksana,
karena senyummu,
karena setiap gerakanmu
Sayangnya, beberapa hari kemudian, sang cewek mengalami kecelakaan dan mengalami koma. Sang cowok kemudian menaruh surat di sisinya, dan isinya sebagai berikut:
Kekasihku,
Karena suaramu yang merdu saya mencintaimu.
Sekarang dapatkah kamu berbicara?
Tidak!
Oleh karena itu saya tak dapat mencintaimu.
Karena kamu penuh perhatian dan peduli
maka saya menyukaimu.
Sekarang kamu tidak dapat menunjukkannya,
oleh karena itu saya tak dapat mencintaimu
Karena senyummu, karena setiap gerakanmu
maka saya mencintaimu
Sekarang dapatkah kamu tersenyum?
Dapatkah kamu bergerak?
Tidak!
Karena itu saya tak dapat mencintaimu..
Jika cinta memerlukan alasan,
seperti sekarang,
maka tidak ada alasan lagi bagi saya untuk mencintai engkau lagi.
Apakah cinta memerlukan alasan?
TIDAK!
Oleh karena itu, saya masih tetap mencintaimu
dan cinta tidak memerlukan alasan
Ketika mencintai seseorang
jangan pernah menyesal dengan apa yang pernah kamu lakukan
menyesallah terhadap apa yang tidak pernah kamu tidak lakukan.
Jika Tuhan membawa engkau kepada cinta..
Dia akan memampukan engkau untuk bisa mengatasinya.
By
~Arya(14704)~
Cinta Antara Tawa dan Tangis
Oleh : Adrian Eko Desrilianto
|
|
Memang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang namun ia tak membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang dan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita kepadanya. Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan
seseorang, yang sangat berarti bagi kita hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu. Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulutkan perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancurkan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat, mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan ... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin menyembuhkan dan memberikan berkah. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, kemudian tumbuh dengan sebuah kecupan, dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita menangis begitu kerasnya sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia. Ketika kita menanggalkan hidup maka, kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang diseliling kita
menangis.
Sabtu, 03 Januari 2009
Ego Vs Prinsip

Ditulis oleh Adrian Eko Desrilianto
“Pokoknya Dini mau baju yang warnanya hijau itu, tak perduli apapun” tangis seorang gadis kecil pada ibunya. Prinsipkan itu atau ego ? dua kata itu selalu disamakan oleh manusia.
Mengapa ? prinsip yang baik itu melihat kondisi manusia lain, bukan hanya diri sendiri. Example seorang wanita yang kaya raya berjalan berdua dengan seorang lelaki yang miskin. Mereka makan di sebuah Kafe yang Lux. Prinsip wanita itu Lelaki yang harus bayar bukan perempuan (walaupun ia tau kondisi ekonomi laki2 itu). Kalu ia memandang ego itu pasti akan dipertahnkanya sehingga laki2 itu bingung mo membayar dengan apa dan belakangan ia akan di cap sebagai Cewe Matre. But bagi cewek yang mengedepankan prinsip maka ia akan membayar makanan itu karna ia tau laki2 itu kondisi ekonominya lemah, ia mengesampingkan prinsip nya untuk menghargai laki2 itu. Tapi jangan keterusan ya. Jadi intinya ego dan prinsip itu beda, bisa saja ego dan prinsip sejalan tapi tak bisa prinsip dan ego itu di gandeng dalam kondisi yang terpojokkan. Hati – hati ego bisa buat dunia selalu salah, tapi prinsip bisa merubah dunia yang salah menjadi benar.